Cari Blog Ini

Kamis, 05 Juni 2014

ASUHAN KEPERAWATAN TUMOR TULANG



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sistem organ dalam tubuh manusia ada beberapa macam, diantaranya adalah sistem muskuloskeletal. Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh, membantu proses pergerakan, serta melindungi organ-organ tubuh yang lunak. Komponen utama dari sistem muskuloskeletal merupakan jaringan ikat. Sistem ini terdiri atas tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur tersebut (Patofisiologi, 2002).  Ada tiga macam tumor tulang yaitu yang bersifat lunak, ganas dan yang memiliki lesi di tulang (berlubangnya struktur karena jaringan akibat cedera atau penyakit). Selain itu ada yang bersifat primer dan skunder. Pada tumor tulang sekunder misalnya, seseorang terkena tumor payudara, kemudian menjalar ke tulang dan selanjutnya menggerogoti tulang tersebut. Kanker tulang ini merupakan kelompok tumor tulang yang ganas.

Dari berbagai macam jaringan yang menyusun sistem ini, bermacam-macam pula gangguan yang dapat ditimbulkan. Salah satu gangguan itu yaitu Benigna Bone Tumor and Maligna Bone Tumor. Tumor ini sering terjadi pada anak-anak, karena sifatnya yang jinak tumor ini tidak berbahaya. Tumor-tumor jaringan lunak merupakan suatu golongan heterogen kelainan-kelainan yang berasal dari jaringan asal mesodermal. Dalam jaringan ini termasuk organ gerak, seperti otot-otot dan tendon, kapsula, sendi dan juga semua struktur lemak dan jaringan ikat penyangga, yang berada diantara komponen-komponen epitelial dan di sekitar organ-organ. Sering juga kelainan yang berasal dari struktur mesenkimal, tetapi yang terletak dalam organ tertentu, dibicarakan dan ditangani sebagai kelainan organ-organ itu dan tidak dimasukkan dalam golongan tumor jaringan lunak.
Tumor tulang Benigna dan Maligna memiliki prevalensi yang jarang (kurang dari 1% dari seluruh kasus tumor), namun tumor ini mengakibatkan dampak yang cukup fatal bagi penderitanya. Penderita tumor tulang seringkali merasakan nyeri yang hebat bahkan pasien tidak mampu menjalankan aktivitasnya. Selain itu penderita juga dapat berisiko mengalami cidera akibat fraktur patologik.
Peran perawat dalam penyembuhan dan perawatan klien sangat dibutuhkan, karena umumnya pada pasien tumor tulang ini pasien mengalami kesulitan bergerak. Bahkan efek dari tindakan medis juga cukup mengganggu, misalnya pada kemoterapi dan pembedahan. Oleh karena itu perawat juga harus mengetahui tumor tulang Benigna dan Maligna secara menyeluruh. Hal ini ditujukan agar perawat mampu bertindak secara profesional dalam asuhan keperawatan dan memberikan perawatan yang supportif pada penderita tumor tulang.

B.   Rumusan Masalah
1.    Apakah definisi Tumor tulang?
2.     Apa etiologi Tumor tulang Benigna dan Maligna?
3.    Apa saja faktor resiko tumor tulang ?
4.    Apa saja jenis-jenis tumor tulang Benigna & Maligna?
5.    Bagaimana patofisiologi Tumor tulang Benigna dan Maligna?
6.    Apa manifestasi Tumor tulang Benigna dan Maligna?
7.    Sebutkan pemeriksaan penunjang Tumor Tulang Benigna & Maligna?
8.    Bagaimana penatalaksanaan medis Tumor tulang Benigna dan Maligna?
9.    Bagaimana Asuhan Keperawatan klien dengan Tumor tulang Benigna dan Maligna?

C.    Tujuan
1.      Menjelaskan definisi Tumor tulang.
2.      Menjelaskan etiologi Tumor tulang Benigna dan Maligna.
3.      Menjelaskan Faktor resiko tumor tulang.
4.      Menjelaskan Jenis-jenis tumor tulang Benigna & Maligna.
5.      Menjelaskan patofisiologi Tumor tulang Benigna dan Maligna.
6.      Menjelaskan manifestasi klinis Tumor tulang Benigna dan Maligna.
7.      Menjelaskan Pemeriksaan penunjang Tumor Tulang Benigna & Maligna.
8.      Menjelaskan penatalaksanaan medis Tumor tulang Benigna dan Maligna.
9.      Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan Tumor tulang Benigna dan Maligna.


BAB II
KONSEP MEDIS  

I.      Definisi Tumor Tulang
Tumor tulang adalah pertumbuhan abnormal pada sel-sel (neoplasma) di dalam tulang yang kemungkinannya benigna (non kanker) atau maligna (kanker). Neoplasma adalah masa abnormal dari jaringan, yang pertumbuhannya pesat dan tidak terkoordinasi dari pada jaringan normal dan berlangsung lama serta berlebihan setelah perhentian stimulus yang menimbulkan perubahan tersebut (Robin 1999, 261, basic of pathology disease).
Tumor tulang ini dapat di bedakan menjadi dua yaitu:
1.      Tumor tulang primer
·      Tumor tulang primer merupakan tumor tulang yang berasal dari dalam tulang itu sendiri (osteogenik).
Jinak      : osteoid osteoma
Ganas    : oesteosarkoma
·      Tumor yang membentuk tulang rawan (kondrogenik)
Jinak      : Kondroblastoma
Ganas    : Kondrosarkoma
·      Tumor jaringan ikat (fibrogenik)
Jinak      : Non Ossifying Fibroma
Ganas    : Fibrosarkoma
·      Tumor sumsum tulang (myelogenik)
Ganas    : multiple myeloma
2.      Tumor tulang sekunder / metastasik
Tumor tulang sekunder merupakan tumor tulang yang berasal dari metastase tumor yang berasal dari organ/bagian tubuh yang lain, misalnya pada tumor tulang yang terjadi dari tumor payudara, prostase, paru-paru. Terutama sekali tumor yang berada pada akses utama sistem vaskuler.




II.  Etiologi Tumor Tulang Benigna dan maligna
1.      Tumor Jinak (Benigna)
 Tumor Tulang Jinak (Benigna Bone Tumor) adalah pertumbuhan abnormal pada sel-sel di dalam tulang yang kemungkinannya benigna (non kanker) atau tumor jinak (benigna) tidak menyerang dan menghancurkan tissue (sekumpulan sel terinterkoneksi yang membentuk fungsi serupa dalam suatu organisme) yang berdekatan, tetapi mampu tumbuh membesar secara lokal. Biasanya setelah dilakukan operasi pengangkatan (tumor jinak), tumor jenis ini tidak akan muncul lagi.
2.      Tumor Ganas (Maligna)
Tumor jenis ini lebih dikenal dengan istilah Kanker, yang memiliki potensi untuk menyerang dan merusak tissue yang berdekatan, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau menyebabkan terjadinya metastasis (migrasi sel ke tempat yang jauh).

 Etiologi Tumor Tulang Benigna
Penyebab dari tumor tulang tidak diketahui. Tumor tulang biasanya muncul pada area yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat. Tetapi pada penelitian biomolekuler lebih lanjut ditemukan beberapa mekanisme terjadinya neoplasma tulang, yaitu melalui identifikasi mutasi genetik yang spesifik dan penyimpangan kromosom pada tumor. Keabnormalan dari gen supresor tumor dan gen pencetus oncogen. Tumor histogenik memiliki dua level tipe, yaitu:
1. benigna bone tumor;
2. maligna bone tumor.
Menurut penelitian juga disebutkan bahwa terjadinya mutasi cromosom P53 dan Rb juga dapat menjadi penyebab terjadinya tumor (Robins 1999, 551, “Basic of Pathology Disease”). Selain itu penyebabnya bisa karena adanya trauma dan infeksi yang berulang misalnya Bone infarct, osteomyelitis chronic paget disease. Faktor lingkungan berupa paparan radiasi dan zat karsinogenik (timbal, karbon dan bahan metal lain), serta gaya hidup (perokok, alkoholik, dan sering terpapar stress) juga merupakan factor predisposisi terjadinya tumor tulang ini.


Etiologi Tumor Tulang Maligna
Faktor penyebab tumor maligna jaringan lunak yaitu:
1.      Faktor genetik atau keturunan dimana bisa diturunkan dari embrionik
mesoderm. 
2.      Virus, Virus dapat dianggap bisa menyatukan diri dalam sel sehingga mengganggu generasi mendatang dari populasi sel.
3.      Pemajanan terhadap  radiasi pengionisasi dapat terjadi saat prosedur radiografi berulang atau ketika terapi radiasi digunakan untuk mengobati penyakit.
4.      Agens hormonal, Pertumbuhan tumor mungkin dipercepat dengan adanya gangguan dalam keseimbangan hormon baik dalam pembentukan hormon tubuh sendiri (endogenus) atau pemberian hormon eksogenus.
5.      Kegagalan sistem imun, Kegagalan sisem imun untuk berespon dengan tepat terhadap sel-sel maligna memungkinkan tumor tumbuh sampai pada ukuran yang terlalu besar untuk diatasi oleh mekanisme imun normal.
6.      Agens kimia, Kebanyakan zat kimia yang berbahaya menghasilkan efek-efek toksik dengan menggunakan struktur DNA pada bagian-bagian tubuh (zat warna amino aromatik, anilin, nikel, seng, polifinil chlorida).

III.   Faktor Risiko Tumor Tulang
Beberapa faktor resiko yang menyebabkan terjadinya tumor tulang yaitu:
1. Kecepatan pertumbuhan tulang yang memacu timbulnya tumor tulang ganas selama masa kanak-kanak terutama daerah metafise tulang panjang.
2. Beberapa kasus pada tumor tulang ganas disebabkan oleh kelainan DNA pada tulang faktor genetik contohnya:
·      Retinoblastoma kelainan pada gen 13q14
·      Displasi tulang, penyakit paget, fibrous displasia, enchondromatosis, eksostosis herediter multiple
·      L1-Fraumenisyndrome (mutasi TP 53)
·      Rothmund-thomson sindrom yaitu kelainan pada resesif autosomal yang berkaitan dengan kelainan tulang kongenitaaaal, displasia rambut dan kulit, hipogonadism, dan katarak
·      Gaya hidup yang tak sehat misalnya merokok, makanan dan minuman yang mengandung karbon.

IV.   Jenis-jenis Tumor Tulang Benigna dan Maligna
1.     Benigna
a.      OSTEOKONDROMA
Osteokondroma (Eksostosis Osteokartilaginous) merupakan tumor tulang jinak yang paling sering ditemukan. Biasanya menyerang usia 10-20 tahun. Tumor ini tumbuh pada permukaan tulang sebagai benjolan yang keras. Penderita dapat memiliki satu atau beberapa benjolan, 10% dari penderita yang memiliki beberapa osteokondroma, akan mengalami kelaganasan tulang yang disebut kondrosarkoma, tetapi penderita yang hanya memiliki satu osterokondroma, tidak akan menderita kondrosarkoma.
b.     KONDROMA JINAK
Kondroma Jinak biasanya terjadi pada usia 10-30 tahun, timbul dibagian tengah tulang. Beberapa jenis kondroma menyebabkan nyeri. Jika tidak menimbulkan nyeri, tidak perlu diangkat atau diobati. Untuk memantau perkembangannya, dilakukan foto rontgen. Jika tumor tidak dapat di diagnosis  melalui foto rontgen atau jika menyebabkan nyeri, mungkin perlu dilakukan biopsi untuk menentukan apakah tumor tersebut bisa berkembang menjadi kanker atau tidak.
c.      KONDROBLASTOMA
Kondroblastoma merupakan tumor yang jarang terjadi, yang tumbuh pada ujung tulang. Biasanya timbul pada usia 10-20 tahun. Tumor ini dapat menimbulkan nyeri, yang merupakan petunjuk adanya penyakit ini. Pengobatan terdiri dari pengangkatan melalui pembedahan; kadang setelah dilakukan pembedahan, tumor bisa tumbuh kembali.
d.     FIBROMA KONDROMIKSOID
Fibroma Kondromiksoid merupakan tumor yang sangat jarang, yang terjadi pada usia kurang dari 30 tahun. Nyeri merupakan gejala yang biasa dikeluhkan. Tumor ini akan memberikan gambaran yang khas pada foto rontgen. Pengobatannya adalah pengangkatan melalui pembedahan.

e.      OSTEOID OSTEOMA
Osteoid Osteoma adalah tumor yang sangat kecil, yang biasanya tumbuh dilengan atau tungkai, tetapi dapat terjadi pada semua tulang. Biasanya akan menimbulkan nyeri yang memburuk pada malam hari dan berkurang dengan pemberian aspirin dosis rendah. Kadang otot di sekitar tumor akan mengecil (atrofi) dan keadaan ini akan membaik setelah tumor diangkat. Skening tulang menggunakan pelacak radioaktif bisa membantu menentukan lokasi yang tepat dari tumor tersebut. Kadang-kadang tumor sulit ditentukan lokasinya dan perlu dilakukan pemeriksaan tambahan seperti CT scan dan foto rontgen dengan teknik yang khusus. Pengangkatan tumor melalui pembedahan merupakan satusatunya cara untuk mengurangi nyeri secara permanen. Bila penderita enggan menjalani pembedahan, untuk mengurangi nyeri bisa diberikan aspirin.
f.        TUMOR SEL RAKSASA
Tumor Sel Raksasa biasanya terjadi pada usia 20 tahun dan 30 tahun. Tumor ini umumnya tumbuh di ujung tulang dan dapat meluas ke jaringan di sekitarnya, biasanya menimbulkan nyeri. Pengobatan tergantung dari ukuran tumor. Tumor dapat diangkat melalui pembedahan dan lubang yang terbentuk bisa diisi dengan cangkokan tulang atau semen tulang buatan agar struktur tulang tetap terjaga. Pada tumor yang sangat luas kadang perlu dilakukan pengangkatan satu segmen tulang yang terkena. Sekitar 10 % tumor akan muncul kembali setelah pembedahan, walaupun jarang tumor ini bisa tumbuh menjadi kanker.
2.     Maligna
a.      KONDROSARKOMA
Chondrosarcoma adalah tumor yang terdiri dari sel-sel kartilago (tulang rawan) yang ganas, merupakan jenis tumor ganas kedua yang paling banyak didapati diderita. Kebanyakan Chondrosarcoma tumbuh lambat atau merupakan tumor derajat rendah yang sering dapat disembuhkan dengan pembedahan. Namun, ada juga tumor derajat tinggi yang cenderung untuk menyebar. Biasanya untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi. Tumor jenis ini harus diangkat seluruhnya melalui pembedahan karena tidak bereaksi terhadap kemoterapi maupun terapi penyinaran. Amputasi tungkai atau lengan jarang diperlukan. Jika tumor diangkat seluruhnya, lebih dari 75% penderita bertahan hidup.
b.     EWING’S SARCOMA
Ewing’s sarcoma ditemukan oleh Dr. James Ewing pada tahun 1921, dan sering ditemukan muncul pada masa pubertas, dimana tulang tumbuh sangat cepat. Jenis tumor ini jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 10tahun dan hamper tidak pernah ditemukan pada anak-anak afro-amerika.Ewing’s sarcoma bisa tumbuh di bagian tubuh manapun, namun paling seringditemukan pada tulang panjang anggota gerak, panggul atau dada, bahkan jugabisa tumbuh di tulang tengkorak atau tulang pipih lainnya.
c.      FIBROSARKOMA & HISTIOSITOMA FIBROSA MALIGN
Kanker ini biasanya berasal dari jaringan lunak (jaringan ikat selaintulang, yaitu ligamen, tendo, lemak dan otot) dan jarang berawal dari tulang.Kanker ini biasanya ditemukan pada usia lanjut dan usia pertengahan. Tulang yang paling sering terkena adalah tulang pada tungkai, lengan dan rahang. Fibrosarkoma dan histiositoma fibrosa maligna mirip dengan osteosarcoma dalam bentuk, lokasi dan gejala-gejalanya, pengobatannya juga sama.
d.     MIELOMA MULTIPEL
Mieloma multipel merupakan kanker tulang primer yang paling sering ditemukan, yang berasal dari sel sumsum tulang yang menghasilkan sel darah, umumnya terjadi pada orang dewasa. Tumor ini dapat mengenai satu atau lebih tulang sehingga nyeri dapat muncul pada satu tempat atau lebih. Pengobatannya rumit, yaitu meliputi kemoterapi, terapi penyinaran dan pembedahan.
e.       OSTEOSARKOMA
Osteosarkoma (sarkoma osteogenik) adalah tumor tulang ganas, yang biasanya berhubungan dengan periode kecepatan pertumbuhan pada masa remaja. Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama, tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki. Penyebab yang pasti tidak diketahui. bukti-bukti mendukung bahwa osteosarcoma merupakan penyakit yang diturunkan.
Osteosarkoma cenderung tumbuh di tulang paha (ujung bawah), tulang lengan atas (ujung atas) dan tulang kering (ujung atas). Ujung tulang-tulang tersebut merupakan daerah dimana terjadi perubahan dan kecepatan pertumbuhan yang terbesar. Meskipun demikian, osteosarkoma juga bias tumbuh di tulang lainnya. Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri. sejalan dengan pertumbuhan tumor, juga bisa terjadi pembengkakan dan pergerakan yang terbatas. Tumor di tungkai menyebabkan penderita berjalan timpang, sedangkan tumor di lengan menimbulkan nyeri ketika lengan dipakai untuk mengangkat sesuatu benda. Pembengkakan pada tumor mungkin teraba hangat dan agak memerah. Tanda awal dari penyakit ini bisa merupakan patah tulang karena tumor bisa menyebabkan tulang menjadi lemah. patah tulang di tempat tumbuhnya tumor disebut fraktur patologis dan seringkali terjadi setelah suatu gerakan rutin.
f.        LIMFOMA TULANG MALIGNA  
Limfoma Tulang Maligna (Sarkoma Sel Retikulum) biasanya timbul pada usia 40- 50 tahun. Bisa berasal dari tulang manapun atau berasal dari tempat lain di tubuh kemudian menyebar ke tulang. Biasanya tumor ini menimbulkan nyeri dan pembengkakan, dan tulang yang rusak lebih mudah patah. Pengobatan terdiri dari kombinasi kemoterapi dan terapi penyinaran, yang sama efektifnya dengan pengangkatan tumor. Amputasi jarang diperlukan.

V.  Patofisiologi Tumor Tulang Benigna dan Maligna
Tumor ganas merupakan proses yang biasanya makan waktu lama sekali, bermula ketika sel abnormal diubah oleh mutasi genetik dari DNA seluler. Sel abnormal ini membentuk klon dan mulai berfoliferasi secara abnormal, mengabaikan sinyal mengatur pertumbuhan dalam lingkungan sekitar sel tersebut kemudian dicapai suatu tahap dimana sel mendapatkan ciri-ciri invasif. Dan terjadi perubahan pada jaringan sekitarnya sel-sel tersebut menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan memperoleh akses ke limfe dan pembuluh-pembuluh darah, melalui pembuluih darah tersebut sel-sel dapat terbawa ke area lain dalam tubuh untuk membentuk metastase.
 Penyebaran limfogen terjadi karena sel kanker menyusup ke saluran limfe kemudian ikut aliran limfe menyebar dan menimbulkan metastasis di kelenjar limfe regional. Pada umumnya kanker mula-mula menyebar dengan cara ini baru kemudian menyebar hematogen, pada permulaan penyebaran hanya terjadi pada satu kelenjar limfe saja tetapi selanjutnya terjadi pada kelenjar limfe regional lainnya. Setelah menginfiltrasi kelenjar limfe sel kanker dapat menembus dinding struktur sekitar menimbulkan perlekatan. Kelenjar limfe satu dengan yang lain sehingga membentuk paket kelenjar limfe. Penyebaran hematogen terjadi akibat sel kanker menyusup ke kapiler darah kemudian masuk ke pembuluh darah dan menyebar mengikuti aliran darah vena sampai organ lain.
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis sel: osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas, mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan dalam mengendapkan kalsium dan fosfat kedalam matriks tulang. Sebagian dari fosfotase alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian maka keadaan fosfotase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik tentang pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis kanker ke tulang. Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi untuk tulang yang padat. Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorbsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas adalah proses pengikisan tulang.
Metabolisme tulang diatur oleh beberapa hormon yaitu hormon kalsitonin, hormon paratiroid dan vit D. Suatu peningkatan kadar hormone kalsitonin mempunyai efek terjadinya peningkatan absorbsi ke dalam tulang sehingga mengakibatkan terjadinya pengapuran tulang yang menjadikan tulang-tulang rawan menjadi keras. Jika terjadi peningkatan hormon paratiroid (PTH) mempunyai efek langsung menyebabkan kalsium dan fosfat diabsorbsi dan bergerak memasuki serum. Di samping itu peningkatan kadar PTH secara perlahan-lahan menyebabkan peningkatan jumlah dan aktivitas osteoklas, sehingga terjadi demineralisasi. Peningkatan kadar kalsium serum pada hiperparatiroidisme dapat pula menimbulkan pembentukan batu ginjal. Vitamin D mempengaruhi deposisi dan absorbsi tulang seperti yang terlihat pada kadar PTH yang tinggi. 

PATHWAY
Radiasi sinar radio                keturunan                  virus onkogenik
Aktif agen kimia

Nyeri
 
                                    Kerusakan gen                                 
                                    Poliferasi sel tulang              menekan sel saraf
                                    Secara abnormal
                                    Neoplasma                 inflamasi lokal
Tumor tulang
 
                                     
         Tindakan medis                                                                                Kerusakan struktur tulang
      Cacat , kebotakan                                                          Kekuatan tulang        Tulang lebih rapuh
Gangguan citra tubuh
Tubuh
 
                        Neoplasma tumbuh   Keterbatasan            Resiko fraktur
Resiko cedera
 
                            Ke dalam sendi          Aktivitas                                        
Hambatan mobilitas fisik
 
                        Jaringan lunak di
                        Invasi sel tumor
                        Respon osteolitik &
                             Osteoblastik
Penimbunan periosteum disekitar lesi
Pertumbuhan tulang yang abnormal
     Perubahan status kesehatan
Stressor


Anxietas

 
 




VI.   Manifestasi Klinis Tumor Tulang Benigna dan Maligna
1.     Manifestasi Klinis Tumor Tulang Benigna
Pasien umumnya memiliki riwayat nyeri berulang, memburuk pada malam hari dan biasanya tidak sanggup beraktivitas. Massa dan pembengkakan mungkin dapat diketahui dengan palpasi, tetapi gejala pokok (kehilangan berat badan, demam, berkeringat pada malam hari, lemas) biasanya tidak ditemukan, kecuali pada kasus tumor metastase.
Lesi yang berdekatan bergabung dan dapat menyebabkan tumor tidak terkendali, bernodul dan nyeri. Tumor jaringan lunak seringkali dirasakan kurang nyeri bahkan tidak nyeri. Nyeri ini disebabkan tertekannya saraf-saraf nyeri oleh massa.

2.     Manifestasi Klinis Tumor Tulang Maligna
·         Nyeri
Nyeri merupakan gejala yang paling banyak ditemukan, sekitar 75% pasien dengan tumor tulang maligna merasakan nyeri. Gejala nyeri yang ditimbulkan tergantung pada predileksi serta ukuran tumor. Gejala dini biasanya berupa nyeri yang bersifat tumpul akibat pembesaran tumor yang perlahan-lahan. Nyeri berlangsung lama dan memburuk pada malam hari. Saat istirahat nyeri tidak menghilang, nyeri diperberat oleh adanya fraktur patologis.
·         Pembengkakan, Pembengkakan lokal biasa ditemukan.
·         Massa yang teraba-teraba yang diakibatkan penonjolan tulang.
·         Frekuensi miksi meningkat
Manifestasi klinis ini ditemukan pada tumor tulang maligna di pelvis, namun manifestasi klinis ini tidak selalu ada di setiap tumor tulang maligna. Gejala yang ditimbulkan tergantung dari gradenya. Pada grade tinggi, selain pertumbuhan tumor cepat juga disertai nyeri yang hebat. Sedangkan pada grade rendah, pertumbuhan tumor lambat dan biasanya disertai keluhan orang tua seperti nyeri pinggul dan pembengkakan.


VII. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis didasarkan pada riwayat, pemeriksaan fisik, dan penunjang diagnosis seperti CT, mielogram, asteriografi, MRI, biopsi, dan pemeriksaan biokimia darah dan urine. Pemeriksaan foto toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk follow-up adanya stasis pada paru-paru. Fosfatase alkali biasanya meningkat pada sarkoma osteogenik. Hiperkalsemia terjadi pada kanker tulang metastasis dari payudara, paru, dan ginjal. Gejala hiperkalsemia meliputi kelemahan otot, keletihan, anoreksia, mual, muntah, poliuria, kejang dan koma. Hiperkalsemia harus diidentifikasi dan ditangani segera. Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histologik. Biopsi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran dan kekambuhan yang terjadi setelah eksesi tumor., (Rasjad, 2003).

VIII.  Penatalaksanaan Medis Tumor Tulang Benigna dan Maligna
1.    Penatalaksanaan Medis Tumor Tulang Benigna
Penatalaksanaan tumor tulang benigna biasanya tidak terlalu sulit dibanding dengan tumor tulang maligna. Pada tumor tulang benigna yang jelas, misalnya non-ossifying fibrosa, osteokondroma yang kecil biasanya tidak diperlukan tindakan khusus. Apabila jenis tumor diragukan maka perlu dilakukan pemeriksaan biopsi. Tujuan pengambilan biopsi adalah memperoleh material yang cukup untuk pemeriksaan histologis, untuk membantu menetapkan diagnosis serta staging tumor. Waktu pelaksanaan biopsi sangat penting sebab dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan radiologis yang dipergunakan pada staging.

2.      Penatalaksanaan Medis Tumor Tulang Maligna
Penatalaksanaan tumor tulang maligna merupakan bentuk kerja tim antara dokter dengan profesional kesehatan lainnya. Para radiologist, diperlukan untuk melihat faktor- faktor untuk evaluasi kecepatan perkembangan tumor, diagnosis spesifik, dan pembesaran tumor. Perawat dan ahli gizi, terlibat menjelaskan kepada pasien efek samping dari penanganan tumor tulang maligna dan memberikan dorongan kesehatan makanan untuk membantu melawan efek samping tersebut.  
Jenis terapi yang diberikan kepada pasien tergantung pada beberapa hal seperti:
·      Ukuran dan lokasi dari kanker.
·      Menyebar tidaknya sel kanker tersebut.
·      Grade dari sel kanker tersebut.
·      Keadaan kesehatan umum pasien.
Pasien dengan tumor tulang maligna memerlukan terapi kombinasi pembedahan (surgery), kemoterapi dan radioterapi;
1.    Surgery
Langkah utama penatalaksanaan tumor tulang maligna pembedahan karena tumor tulang ini kurang berespon terhadap terapi radiasi dan kemoterapi. Variasi penatalaksanaan bedah dapat dilakukan dengan kuret intralesi untuk lesi grade rendah, eksisi radikal, bedah beku hingga amputasi radikal untuk lesi agresif grade tinggi. Lesi besar yang rekuren penatalaksanaan paling tepat adalah amputasi.
2.    Kemoterapi  
Kemoterapi, meskipun bukan yang paling utama, namun ini diperlukan jika kanker telah menyebar ke area tubuh lainnya. Terapi ini menggunakan obat anti kanker (cytotoxic) untuk menghancurkan sel-sel kanker. Namun kemoterapi dapat memberikan efek samping yang tidak menyenangkan bagi tubuh. Efek samping ini dapat dikontrol dengan pemberian obat.
3.    Radioterapi
Prinsip radioterapi adalah membunuh sel kanker menggunakan sinar berenergi tinggi. Radioterapi diberikan apabila masih ada residu tumor, baik makro maupun mikroskopik. Radiasi diberikan dengan dosis per fraksi 2,5 Gy per hari dan total 50-55 Gy memberikan hasil bebas tumor.





BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A.     Pengkajian
1.      Lakukan pengkajian fisik
2.       Observasi adanya manifestasi tumor tulang:
·      Nyeri lokal pada sisi yang sakit
·      Nyeri mungkin hebat atau dangkal
·      Sering hilang dengan posisi fleksi
·      Seringkali menimbulkan perhatian  bila anak pincang, membatasi aktivitas fisik sendiri dan tidak mampu menahan objek berat
3.      Periksa area yang sakit untuk status fungsional, tanda-tanda inflamasi, ukuran massa, keterlibatan nodus limfe regional, dan adanya bukti keterlibatan sistemik.
4.       Dapatkan riwayat kesehatan, terutama mengenal nyeri ( petunjuk untuk durasi dan kecepatan pertumbuhan tumor )
5.      Bantu dengan prosedur diagnostic dan tes misalnya : radiografi, tomografi, pemindaian tulang radioisotop, atau biopsy tulang bedah, tomografi paru, tes lain untuk diagnose banding, aspirasi sumsum tulang (sarcoma Ewing).

B.     Diagnosa keperawatan
1.      Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi jaringan saraf atau inflamasi.
2.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan dan kerusakan muskuloskeletal .
3.      Gangguan citra tubuh berhubungan dengan biofisik dan penanganan
4.      Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian dan perubahan status kesehatan
5.      Resiko cedera berhubungan dengan tumor
6.      Resiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis dan kerusakan jaringan





C.      Intervensi
1.      Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi jaringan saraf atau inflamasi.
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Pasien akan :
ü  Meningkatkan kenyamanan
ü  Dapat mengendalikan nyeri
ü  Dapat melaporkan karakteristik nyeri.

ü  Catat dan kaji lokasi dan intensitas nyeri (skala 0-10). Selidiki perubahan karakteristik nyeri
ü  Berikan tindakan kenyamanan (contoh ubah posisi sering, pijatan lembut).
ü  Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka.
ü  Berikan lingkungan yang tenang.
ü  Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian analgetik, kaji efektifitas dari tindakan penurunan rasa nyeri.
·         Untuk mengetahui respon dan sejauh mana tingkat nyeri pasien.
·         Mencegah pergeseran tulang dan penekanan pada jaringan yang luka
·         Peningkatan vena return, menurunkan edema, dan mengurangi nyeri.
·         Agar pasien dapat beristirahat dan mencegah timbulnya stress
·         Untuk mengurangi rasa sakit / nyeri.


2.     Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan dan kerusakan muskuloskeletal
Tujuan & kriteria hasil
Intervensi
Rasional
Pasien akan :
ü  Menunjukkan mobilitas
ü  Melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri.
ü  Berikan terapi latihan fisik : ambulasi, keseimbangan, mobilitas sendi. 
ü  Bantu dan dorong perawatan diri
ü  Meningkatkan sirkulasi darah muskuloskeletal, mempertahankan  tonus otot, mempertahakan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi.
ü  Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien.

3.     Gangguan citra tubuh berhubungan dengan biofisik dan penanganan
tujuan & kriteria hasil
Intervensi
Rasional
Pasien  akan :
ü Menunjukkan adaptasi dengan ketunadayaan fisik, penyesuaian psikososial.
ü Menunjukkan citra tubuh positif dan harga diri positif.
ü Menunjukkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
ü Menunjukkan keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan
ü  Bimbinngan antisipasi : persiapkan pasien terhadap kritis perkembangan atau kritis situasional
ü  Peningkatan citra tubuh : tingkatkan persepsi sadar dan tak sadar pasien serta sikap terhadap tubuh pasien
ü  Peningkatan koping : bantu pasien beradaptasi dengan persepsi stresor, perubahan atau ancaman
ü  Dapat membantu pasien /orang terdekat memulai proses adaptasi pada status baru dan menyiapkan beberapa untuk efek samping.
ü  Membantu mengartikan masalah sehubungan dengan pola hidup sebelumnya dan membantu pemecahan masalah. Contohnya, takut kehilamngan kemandirian, kemampuan bekerja, dsb.
ü  Meningkatkan kemandirian dan meningkatkan perasaan harga diri.
4.      Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian dan perubahan status kesehatan
Tujuan & kriteria hasil
Intervensi
Rasional
Pasien akan :
ü  Menunjukkan  rasa aman yang optimal

ü  Penurunan ansietas
ü   Teknik menenangkan diri
ü  Untuk Minimalkan  kekhawatiran, ketakutan, prasangka, atau perasaan tidak tenang yang berhubungan dengan sumber bahaya yang diantisipasi dan tidak jelas
ü  Untuk meredakan kecemasan pada pasien yang mengalami distres akut

5.      Resiko cedera berhubungan dengan tumor
Tujuan & kriteria hasil
Intervensi
Rasional
Pasien akan :
ü Pasien dan keluarga dapat mempersiapkan lingkungan yang aman.
ü Pasien dan keluarga dapat menghindari cidera fisik.
ü  Dapat memodofikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
ü  Menejemen lingkungan: pantau lingkungan fisik memfasilitasi keamanan.
ü  Berikan bimbingan dan pengalaman belajar tentang kesehatan individu yang kondusif.
ü  Identifikasi faktor resiko potensial terjadinya cidera.
ü  Mencegah potensi cedera dan memberikan keamanan  lingkungan sekitar pasien terhadap cedera.
ü   Untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan pasien dalam mencegah faktor resiko cidera.
ü  Untuk mengetahui dan mencegah faktor resiko potensial yg dapat mengakibatkan cidera.

6.      Resiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis dan kerusakan jaringan
Tujuan & kriteria hasil
Intervensi
Rasional
Pasien akan :
ü  Terbebas dari tanda dan gejala infeksi
ü  Memperlihatkan higiene personal yang adekuat
ü  Pengendalian infeksi : minimalkan penyebaran dan penularan agens infeksius
ü  Perlindungan infeksi : cegah dan deteksi dini infeksi pada pasien yang beresiko
ü  Ajarkan klien dan keluarga cara menghindar infeksi.
ü   Mencegah terjadinya penyebaran agens yang menyebabkan infeksi.
ü  mengidentifikasi dini infeksi dan mencegah infeksi berlanjut
ü  agar klien dan keluarga dapat secara mandiri meenghindari infeksi tanpa bantuan perawat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar