A.
Konsep Persalinan
1. Definisi
Menurut Bobak
et al (2005) persalinan yaitu proses pergerakan keluarnya janin,
plasenta, serta membran dari dalam rahim melalui jalan lahir. Persalinan atau
kelahiran merupakan akhir dari kehamilan dan titik dimulainya kehidupan di luar
rahim bagi bayi baru lahir.
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi
(janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan
melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan.
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan
pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi
persalinan sejati , yang di tandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan
diakhiri dengan pelepasan plasenta (Varney,
2006 : 672)
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran
janin yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan persentasi belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin,
2007 : 100)
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan
selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika
prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan ( setelah 37 minggu ) tanpa
disertai adanya penyulit ( APN, 2007:
37).
Partus adalah
suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (bayi, plasenta, dan selaput ketuban)
dari dalam uterus. Menurut usia kehamilannya, partus dibedakan menjadi 3,
yaitu:
·
Partus
Immaturus : jika usia kehamilan antara 20 minggu hingga 28 minggu, dengan berat
janin antara 500-1000 gram
·
Partus
Prematurus : jika usia kehamilan antara 28 minggu hingga 36 minggu, dengan
berat janin antara 1000-2500 gram
·
Partus
Postmaturus (Serotinus) : jika usia kehamilan lebih dari 42 minggu
Dari ketiga
definisi partus berdasarkan waktu tersebut, dapat disimpulkan bahwa kehamilan
dikatakan aterm apabila usia kehamilan antara
36 minggu hingga 42 minggu sedangkan jika hasil konsepsi keluar dari uterus
sebelum usia kehamilan 20 minggu dengan berat janin kurang dari 500 gram disebut
dengan abortus.
v
Bentuk
persalian berdasarkan defenisi adalah sebagai berikut
a. Persalinan spontan (partus spontan) adalah proses
lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak
melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jamtanpa adanya komplikasi pada ibu
maupun janinnya. Suatu keadaan di mana seorang wanita akan melahirkan disebut
dengan inpartu.
b. Persalinan buatan (partus abnormal) ialah persalinan
pervaginam dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi
caesar.
Persalinan adalah suatu
proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui
vagina kedunia luar. Persalinan ematur adalah persalinansaat kehamilan 20-28
minggu dengan berat janin antara 500-1.000 g. Persalinan prematur adalah
persalinansaat kehamilan 28-36 minggu dengan berat janin antara 1.000-2.500 g.
Pada setiap persalinan
ada 3 faktor yang perlu diperhatikan. Yaitu jalan lahir (tulang dan jaringan
lunak pada panggul ibu). Janin dan kekuatan ibu. Kelainan satu atau beberapa
faktor diatas dapat menyebabkan distosia.
2. Sebab-sebab Terjadinya
Persalinan
Ada
banyak teori tentang sebab dimulainya proses persalinan. Beberapa di antaranya
adalah:
·
Penurunan
kadar estrogen dan progesteron pada 1-2 minggu sebelum proses persalinan
dimulai.
·
Peningkatan
kadar prostaglandin sejak usia kehamilan 15 minggu dan terus meningkat kadarnya
hingga usia kehamilan aterm.
·
Semakin
tua usia kehamilan, maka plasenta juga akan semakin tua dan villi koriales akan
mengalami banyak perubahan sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun.
·
Berkurangnya
nutrisi untuk janin akibat semakin membesarnya uterus. Uterus yang membesar dan
tegang menyebabkan terjadinya iskemia otot-otot uterus sehingga sirkulasi
uteroplasenter terganggu dan menyebabkan degenerasi plasenta.
·
Tekanan
pada ganglion servikalis dari Plexus Frankenhauser yang terletak di belakang
serviks uteri. Bila ganglion ini ditekan maka kontraksi uterus dapat
dibangkitkan.
Dari semua
teori tersebut, muncul berbagai tindakan yang digunakan untuk induksi
persalinan seperti
a. Merangsang Plexus Frankenhaus dengan
memasukkan beberapa gagang laminaria pada kanalis servikalis
b. Pemecahan ketuban (amniotomi)
c. Drip oksitosin
d. Pemberian obat-obatan prostaglandin
(misoprostol).
3. Pertolongan persalinan
Seorang ibu dikatan
dalam persalinan (in partu) bila
telah timbul His yaitu kontraksi yang teratur, makin sering, makin lama, dan
kuat serta mengeluarkan lendir bercampur darah (Bloody Show). Bila ketuban telah pecah, ibu harus berbaring.
Ibu yang merasakan
dirinya dalam persalinan harus diperiksa secara cermat untuk mengetahui bahwa
ia memang benar dalam persalinan dan dinilai adanya kelainan ( misalnya
diproporsi sefalopelvik, gangguan His). Beberapa prosedur yang harus dilakukan
:
·
Gali
riwayat kesehatan saat pemeriksaan terakhir
·
Catat
tanda vital, keadaan umum, dan segala kelainan fisik yang ditemukan pada pasien
·
Lakukan
pemeriksaan fisik secara keseluruhan
·
Bila
terdapat fasilitas, periksa protein dan glukosa urine
·
Periksa
abdomen, inspeksi adanya jaringan paru atau bekas trauma lama. Palpasi uterus
dengancara leopold untuk menentukanpresetase janin, turunnya bagian terbawah
janin, dan posisi janin. Hiung frekuensi detak jantung janin (misalnya dengan
laenetc atau doppler).
·
Perhatikan
frekuensi, keteraturan, kekuatan, dan lama kontraksi uterus.
·
Jika
ada perdarahan dari vagina atau keluarnyaair ketuban, catat sifat dan jumlahnya
·
Lakukan
pemeriksaan dalam untuk menilai pembukaan dan penipisan serviks, posisi bagian
terbawah janin.
4. Penyimpangan
Jalan Persalinan
Persalinan yang normal (eutasia) menunjukan bahwa ketiga faktor penting yaitu, Power (P),
Passage (P), dan Passenger (P) sama dengan baik sehingga persalinan berlangsung
spontan, aterm, dan hidup. Selain itu, terdapat faktor lainnya seperti faktor
kejiwaan wanita dan penolong tetapi kedua faktor tambahan tersebut tidak banyak
berfungsi dalam menentukan jalannya persalinan.
Dengan faktor 3P, kemungkinan besar terdapat kelainan
yang memengaruhi jalannya persalinan sehingga memerlukan intervensi persalinan
untuk mencapai well health baby dan well health mother. Persalinan yang
memerlukan bantuan dari luar karena terjadi penyimpangan dari 3P disebut
persalinan distosia.
Kelainan yang terdapat pada masing masing faktor dapat
diuraikan sebagai berikut:
· Power atau kekuatan His (inersia
uteri [primer,sekunder], tetania uteri,His yang tidak terkoordinasi) dan
mengejan (Kelelahan ibu mengejan, salah pimpinan kala kedua).
· Passage
atau jalan Lahir (Kelainan bentuk Panggul,KesempitanPanggul,ketidakseimbangan
Sevalopelvik, Kelainan jalan lahir lunak)
· Passenger (Kelainan
bentuk dan besar janin:anensevalus,hidrosevalus,janin makrosomia, Kelainan pada
letak kepala: Presentasi puncak, Presentasi muka, Presentase dahi, Kelainan
posisi eksiput, Kelainan letak janin,[Letak sungsang,Letak lintang dan atau
letak mengolak], Presentase rangkap [Kepala tangan, kepala kaki,kepala tali
pusat]).
· Tumor pada jalan lahir
(kelainan tulang pada jalan lahir, tumor yang berasal dari indung telur, otot
rahim [mioma uteri] yang melekat pada pelvis minor, tumor yang berasal dari
vagina).
His (kekuatan kontraksi otot rahim) yang
normal mempunyai sifat kontraksi otot rahim mulai dari salah satu tanduk rahim,
vundus dominan menjalar keseluruh otot rahim, kekuatannya seperti memeras isi
rahim. Otot rahim yang telah berkontraksi tidak kembali kepanjang semula
sehingga terjadi retraksi dan pembentukan sekmen bawah rahim. Kelainan
kontraksi otot rahim adalah :
1. Inersia
uteri. His yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari His normal yang terbagi
menjadi :
a. Inersia
uteri primer : bila sejak semula kekuatannya sudah lemah
b. Inersia
uteri sekunder : His pernah cukup kuat tetapi kemudian melemah. Dapat ditegakkan
dengan melakukan evaluasi pada pembukaan, pada bagian terendah terdapat kaput,
dan mungkin ketuban telah pecah. His yang lemah dapat menimbulkanbahaya
terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita
kerumah sakit, puskesmas atau dokter spesialis.
2. Tetania
uteri. His yang terlalu kuat dan terlalu sering, sehingga tidak terdapat
kesempatan relaksasi otot rahim. Akibat dari tetania uteri dapat terjadi :
a.
Partus presipitstus. Persalinan yang
berlangsung dalam waktu tiga jam. Akibatnya mungkin fatal :
·
Terjadi persalinan tidak pada tempatnya
·
Terjadi trauma janin, karena tidak terdapat
persiapan dalam persalinan
·
Trauma jalan lahir ibu yang luas dan
menimbulkan pendarahan, inversion uteri.
b.
Tetania uteri menyebabkan asfiksia
intrauterine sampai kematian janin dalam rahim.
c.
Inkoordinasi kontraksi otot rahim. Keadaan
inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot
rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengusiran janin dari dalam
rahim. Penyebab inkoordinasi kontraksi otot rahim adalah faktor usia penderita
relatif tua, pimpinan persalinan, karna induksi persalinan dengan oksitosin,
rasa takut dan cemas.
Dengan
mempertimbangkan keadaan tersebut dapat diperkirakan persalinan akan mengalami
kesulitan sehingga perlu dikonsultasikan atau segera dirujuk agar mendapatkan
penanganan yang adekuat. Kelainan pada jalan lahir lunak dapat menyebabkan
gangguan pembukaan terutama serviks dan vagina.
Kelainan
jalan lahir lunak yang mengganggu pembukaan
1. Serviks
a.
Serviks yang kaku, terdapat pada primitua
primer atau sekunder atau serviks yang mengalami banyak cacat perlukaan
(sikatrik).
b.
Serviks gantung. Ostium Uteri Eksternum
terbuka lebar, namun Osteum Uteri Internum tidak dapat terbuka.
c.
Serviks konglumer. Osteum Uteri Internum
terbuka, namun Osteum Uteri Eksternal tidak terbuka.
d.
Edema Serviks, terutama karna kesempitan
panggul, serviks terjepit antara kepala dan jalan lahir sehingga terjadi
gangguan sirkulasi darah dari cairan yang menimbulkan edema serviks.
e.
Serviks Dupleks, karna kelainan congenital.
2. Vagina.
Kelainan vagina yang dapat menggangu perjalanan persalinan adalah vagina septum
(transvaginal septum vagina, longitudinal septum vagina) atau tumor pada
vagina.
3. Himen
dan perineum. Kelainan pada himen imperforata , atau himen elastik pada
perineum, terjadi kekakuan sehingga memerlukan episiotomi yang luas.
B. Tanda /
Gejala Persalinan
His biasanya
mulai dirasakan dalam waktu 2 minggu sebelum atau sesudah tanggal perkiraan
persalinan.Penyebab yang pasti dari mulai timbulnya his tidak diketahui.Mungkin
karena pengaruh dari oksitosin (hormon yang dilepaskan oleh kelenjar
hipofisa dan menyebabkan kontraksi rahim selama persalinan).
Persalinan
biasanya berlangsung sekitar 12-14 jam (pada kehamilan pertama) dan pada
kehamilan berikutnya cenderung lebih singkat (6-8 jam).Show (sejumlah kecil darah yang bercampur
dengan lendir dari serviks) biasanya merupakan petunjuk bahwa persalinan segera
dimulai.
Tanda / gejala yang menunjukkan bahwa saat persalinan semakin
mendekat
Tanda
|
Artinya
|
Kapan terjadi
|
Perasaan seolah-olah bayi telah
turun ke bawah
|
Lightening, yaitu turunnya bayi. Kepala bayi telah masuk ke dalam
panggul ibu
|
Mulai dari beberapa minggu sampai
beberapa jam sebelum persalinan dimulai
|
Keluar cairan dari vagina (jernih,
berwarna pink atau sedikit mengandung darah)
|
Show, yaitu lendir kental yang tertimbun di serviks selama
kehamilan. Ketika serviks mulai berdilatasi, lendir ini terdorong ke dalam
vagina
|
Beberapa hari sebelum persalinan
dimulai atau pada awal persalinan
|
Keluar cairan encer yang memancar
atau mengucur dari vagina
|
Selaput ketuban pecah, yaitu
pecahnya kantung berisi cairan yg mengelilingi bayi selama dalam kandungan
|
Mulai dari beberapa jam sebelum
persalinan dimulai sampai setiap saat selama persalinan
|
Pola kram yang teratur, yang
mungkin dirasakan sebagai nyeri punggung atau kram menstruasi
|
Kontraksi, yaitu mengkerut & mengendurnya
rahim. Semakin dekat saat persalinan, kontraksi ini semakin kuat & bisa
menyebabkan nyeri karena serviks membuka & bayi bergerak di sepanjang
jalan lahir
|
Pada awal persalinan
|
Perbedaan Antara His Palsu dan His
Sejati.
Jenis Perubahan
|
His Palsu
|
His Sejati
|
Karakteristik kontraksi
|
Tidak teratur & tidak semakin
sering (disebut kontraksi Braxton Hicks)
|
Timbul secara teratur dan semakin
sering, berlangsung selama 30-70 detik
|
Pengaruh gerakan tubuh
|
Jika ibu berjalan atau
beristirahat atau jika posisi tubuh ibu berubah, kontraksi akan
menghilang/berhenti
|
Meskipun posisi/gerakan ibu
berubah, kontraksi tetap dirasakan
|
Kekuatan kontraksi
|
Biasanya lemah & tidak semakin
kuat (mungkin menjadi kuat lalu melemah)
|
Kontraksinya semakin kuat
|
Nyeri karena kontraksi
|
Biasanya hanya dirasakan di tubuh
bagian depan
|
Biasanya berawal di punggung dan
menjalar ke depan
|
C.
Pemantauan
Persalinan Dan Penilaian APGAR
1. Pemantauan
persalinan
Pemeriksaan yang secara rutin
dilakukan terhadap wanita hamil yang sedang memasuki proses persalinan adalah:
a. Berat badan
b. Tekanan darah
c. Denyut nadi dan laju pernafasan
d. Analisa air kemih dan darah
e. Pemeriksaan perut untuk
memperkirakan besar, posisi dan letak janin
f. Denyut jantung bayi
g. Pemeriksaan dalam untuk mengetahui
besarnya pembukaan atau keutuhan selaput ketuban.
Cairan ketuban
yang berwarna kehijauan, penyebabnya adalah tinja janin yang pertama (mekonium)
dan merupakan pertanda bahwa janin dalam keadaan gawat.Pengeluaran mekonium
oleh janin biasanya terjadi hanya jika janin berada dalam keadaan gawat atau
janin berada dalam letak bokong.
Letak dan
posisi janin akan mempengaruhi proses persalinan. Letak kepala merupakan letak
yang terbaik untuk persalinan yang aman. Selama 1-2 minggu terakhir, sebagian
besar janin akan berputar sehingga kepalanya terletak di bawah.
Letak bokong
dan letak bahu merupakan penyulit dalam persalinan. Persalinan akan berlangsung
lebih mudah jika bayi berada dalam letak kepala dengan wajah yang menghadap ke
punggung ibu.Selama proses persalinan, untuk mencegah dehidrasi biasanya
cairan diberikan melalui infus. Selain itu, infus juga bisa digunakan untuk
memberikan obat.
Proses Persalinan Normal
Proses persalinan dibagi menjadi 4 kala:
a. Kala I Kala
pembukaan serviks
b. Kala II Kala
pengeluaran
c. Kala III Kala
Uri
d. Kala IV Hingga
1 jam setelah plasenta lahir
v KALA I (kala pembukaan)

Proses pembukaan serviks
pada primigravida terdri dari 2 fase yaitu :
1.
Fase
latin, berlangsung selama 8 jam sampai pembukaan 3 cm. His masi lemah dengan
frekuensi his jarang.
2.
Fase
aktif
· Fase akselerasi lamanya 2 jam dengan pembukaan 2-3 cm.
· Fase dilatasi maksimal : Lamanya 2 jam, dengan pembukaan
4-9 cm.
·
Fase deselerasi : Lamanya 2 jam, pembukaan lebih dari 9
cm sampai pembukaan lengkap His tiap 3-4 menit selama 45 detik
Fase deselerasi : Lamanya 2 jam, pembukaan lebih dari 9
cm sampai pembukaan lengkap His tiap 3-4 menit selama 45 detik
v 
KALA II (kala pengeluaran)

KALA II (kala pengeluaran)





Setelah serviks membuka
lengkap, janin akan segerakeluar. His terjadi tiap 2-3 menit, lamanya 60-90
detik. His sempurna dan efektif bila ada kordinasi gelombang kontraksi sehingga
kontraksi simetris dengan dominasi difundus uteri, mempunyai amplitudo mmHg,
belangsung 60-90 detik dengan jangka waktu 2-4 menit, dan tonus uterus saat
relaksasi kurang dari 12 mmHg.
Tanda dan
Gejala Kala II, antara lain:
1.
Perasaan
ingin mengejan bersamaan dg adanya kontraksi uterus
2.
Merasakan
tekanan pada vagina / rektum makin meningkat
3.
Perineum
tampak menonjol
4.
Vulva-vagina
dan sfingter ani membuka
5.
Pengeluaran
lendir darah meningkat
v KALA
III (kala pengeluaran
plasenta)
Berlansung 6-15 menit
setelah janin dikeluarkan.
Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah
(bisa salah satu saja):
1.
Perubahan
bentuk dan tinggi fundus uteri
2.
Tali
pusat memanjang (tanda Ahfeld)
3.
Semburan
darah tiba-tiba
v KALA IV (sampai 1 jam setelah plasenta keluar)
Kala ini penting untuk
menilai perdarahan (maks 500 ml) dan baik tidaknya kontraksi uterus.
2. Nilai
Apgar
Nama Apgar
berasal dari seorang ahli anestesi Amerika, yaitu Virginia Apgar yang menemukan
metoda ini pada tahun 1952.Dokter Apgar telah membantu ribuan persalinan dan
melihat bahwa bayi baru lahir langsung dikirim ke ruang perawatan tanpa
menjalani pemeriksaan secara seksama. Dokter Apgar menginginkan bayi dinilai
dengan suatu cara yang bermakna oleh petugas di ruang persalinan.
Nilai Apgar
adalah suatu cara praktis untuk menilai keadaan bayi baru lahir.Nilai Apgar
merupakan alat penyaring untuk menentukan pertolongan yang perlu segera
diberikan kepada bayi baru lahir.
Nilai Apgar
ditentukan dengan menilai denyut jantung, pernafasan, ketegangan otot, warna
kulit dan respon terhadap rangsangan (refleks); masing-masing diberi nilai 0, 1
atau 2:
a. Denyut jantung : dinilai dengan
menggunakan stetoskop dan merupakan penilaian yang paling penting.
· Jika tidak terdengar denyut jantung
: 0
· Jika jantung berdenyut kurang dari
100 kali/menit :1
· Jika jantung berdenyut lebih dari
100 kali/menit : 2
b. Usaha untuk bernafas
·
Jika
tidak bernafas : 0
·
Jika
pernafasan lambat atau tidak teratur : 1
·
Jika
bayi menangis : 2
c. Ketegangan otot
· Jika otot lembek : 0
· Jika lengan atau tungkainya terlipat
: 1
· Jika bayi bergerak aktif : 2
d. Refleks : dinilai dengan cara
mencubit secara lembut dan perlahan
· Jika tidak timbul refleks : 0
· Jika wajahnya menyeringai : 1
· Jika bayi menyeringai dan terbatuk,
bersin atau menangis keras : 2
e. Warna kulit
· Jika kulit bayi berwarna biru pucat
: 0
· Jika kulit bayi berawarna pink dan
lengan/tungkainya berwarna biru : 1
· Jika seluruh kulit bayi berwarna
pink: 2.
Tabel Nilai APGAR (appearance, pulse rate, grimace,
activity, respiration)
0
|
1
|
2
|
|
Warna kulit
|
Pucat
|
Badan merah, ektremitas biruh
|
Seluruh tubuh kemerah-merahan
|
Frekuensi nadi
|
Tidak ada
|
< 100
|
> 100
|
Reaksi rangsangan
|
Tidak ada
|
Sedikit gerakan mimik
|
Batuk/bersin
|
Aktifitas
|
Tidak ada
|
Ekstremitas sedikit fleksi
|
Gerakan aktif
|
Usaha nafas
|
Tidak ada
|
Lemah/tidak teratur
|
Baik, menangis
|
Dikutip dari kapita
selekta kedokteran edisi ketiga jilid I
(Ilmu Kandungan dan Kebidanan Hal.294)