Cari Blog Ini

Kamis, 05 Juni 2014

ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOARTRITIS



BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Osteoartritis (OA, dikenal juga sebagai artritis degeneratif, penyakit degeneratif sendi), adalah kondisi di mana sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi. Osteoartritis  (OA)  adalah bentuk dari  arthritis  yang berhubungan dengan degenerasi tulang dan kartilago yang paling sering terjadi pada usia lanjut.
 Osteoartritis, yang juga disebut dengan penyakit sendi degeneratif, artritis degeneratif, osteoartrosis, atau artritis hipertrofik, merupakan salah satu masalah kedokteran yang paling sering terjadi dan menimbulkan gejala pada orang – orang usia lanjut maupun setengah baya. Terjadi pada orang dari segala etnis, lebih sering mengenai wanita, dan merupakan penyebab tersering disabilitas  jangka panjang pada pasien dengan usia  lebih dari 65 tahun. Lebih dari sepertiga  orang  dengan  usia  lebih  dari  45  tahun  mengeluhkan  gejala  persendian  yang bervariasi mulai sensasi kekakuan sendi tertentu dan rasa nyeri intermiten yang berhubungan dengan aktivitas, sampai kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat yang menetap,  biasanya dirasakan akibat deformitas dan ketidakstabilan sendi.
 Degenerasi sendi yang menyebabkan sindrom klinis osteoartritis muncul paling sering pada sendi tangan, kaki, panggul, dan spine, meskipun dapat terjadi pada sendi synovial mana pun. Prevalensi kerusakan sendi synovial ini meningkat dengan bertambahnya usia. Pada sendi, suatu jaringan tulang rawan yang biasa disebut dengan nama kartilago biasanya menutup ujung-ujung tulang penyusun sendi. Suatu lapisan cairan yang disebut cairan sinovial terletak di antara tulang-tulang tersebut dan bertindak sebagai bahan pelumas yang mencegah ujung-ujung tulang tersebut bergesekan dan saling mengikis satu sama lain.

B.   Rumusan masalah
1.    Apa Definisi dari Osteoartritis?
2.    Apa saja Etiologi dari Osteoartritis?
3.    Bagaiaman Patofisiologi Osteoartritis?
4.    Apa saja Manifestasi klinis Osteoartritis?
5.    Bagaiaman Penatalaksanaan dari Osteartritis?
6.    Bagaimana Asuhan Keperawatan gangguan muskuloskletal dengan Osteoartritis?

C.   Tujuan
1.    Mengetahui Definisi dari Osteoartritis.
2.    Mengetahui Etiologi dari Osteoartritis.
3.    Mengetahui Patofiologi dari Osteoartritis.
4.    Mengetahui Manifestasi dari Osteoartritis.
5.    Mengetahui Penatalaksanaan dari Osteoartritis.
6.    Mengetahui Asuhan Keperawatan pada Osteoartritis.














BAB II
KONSEP MEDIS
A.   Definisi Osteoastritis 
Osteoartritis yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau osteoartrosis (sekalipun terdapat inflamasi) merupakan kelainan sendi yang paling sering ditemukan dan kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas). (Smeltzer, C Suzanne, 2002 hal .1087). Osteoartritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab kecacatan yang menduduki urutan pertama dan akan meningkat dengan meningkatnya usia, penyakit ini jarang ditemui pada usia di bawah 46 tahun tetapi lebih sering dijumpai pada usia di atas 60 tahun. Faktor umur dan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan frekuensi (Sunarto, 1994, Solomon, 1997).
Sedangkan menurut Harry Isbagio & A. Zainal Efendi (1995) osteoartritis merupakan kelainan sendi non inflamasi yang mengenai sendi yang dapat digerakkan, terutama sendi penumpu badan, dengan gambaran patologis yang karakteristik berupa buruknya tulang rawan sendi serta terbentuknya tulang-tulang baru pada sub kondrial dan tepi-tepi tulang yang membentuk sendi, sebagai hasil akhir terjadi perubahan biokimia, metabolisme, fisiologis dan patologis secara serentak pada jaringan hialin rawan, jaringan sub kondrial dan jaringan tulang yang membentuk persendian. (R. Boedhi Darmojo & Martono Hadi ,1999).
Osteoarthritis (OA) atau penyakit degenerasi sendi ialah suatu penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat yang tidak diketahui penyebabnya, meskipun terdapat beberapa factor resiko yang berperan. Keadaan ini berkaitan dengan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang mananggung beban dan secara klinis ditandai oleh nyeri, deformitas, pembesaran sendi dan hambatan gerak.

B.   Etiologi Osteoastritis
1.    Umur
Perubahan fisis dan biokimia yang terjadi sejalan dengan bertambahnya umur dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan endapannya berbentuk pigmen yang berwarna kuning.
2.    Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.
3.    Pengausan (wear and tear)
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena bahan yang harus dikandungnya.
4.    Kegemukan
Faktor kegemukan akan menambah beban pada sendi penopang berat badan, sebaliknya nyeri atau cacat yang disebabkan oleh osteoartritis mengakibatkan seseorang menjadi tidak aktif dan dapat menambah kegemukan. 
5.    Trauma
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang menimbulkan   kerusakan   pada   integritas   struktur   dan   biomekanik   sendi tersebut.
6.    Keturunan
Heberden node merupakan salah satu bentuk osteoartritis yang biasanya ditemukan   pada   pria   yang   kedua   orang   tuanya   terkena   osteoartritis, sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya yang terkena. 
7.    Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematord; infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi peradangan   dan   pengeluaran   enzim   perusak   matriks   rawan   sendi     oleh membran sinovial dan sel-sel radang.
8.    Joint Mallignment
Pada akromegali karena pengaruh hormon pertumbuhan, maka rawan sendi akan   membal   dan   menyebabkan   sendi   menjadi   tidak   stabil/seimbang sehingga mempercepat proses degenerasi.
9.    Penyakit endokrin
Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air dan garam-garam proteglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak sifat fisik rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, dan kulit. Pada diabetes melitus, glukosa akan menyebabkan produksi proteaglikan menurun. 
10. Deposit pada rawan sendi
Hemokromatosis,   penyakit   Wilson,   akronotis,   kalsium   pirofosfat   dapat  mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal monosodium urat/pirofosfat dalam rawan sendi.

C.   Patofisiologi Osteoartritis
Penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak meradang, dan progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses penuaan, rawan sendi mengalami kemunduran dan degenerasi disertai dengan pertumbuhan tulang baru pada bagian tepi sendi. Proses degenerasi ini disebabkan oleh proses pemecahan kondrosit yang merupakan unsur penting rawan sendi. Pemecahan tersebut diduga diawali oleh stress biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim lisosom menyebabkan dipecahnya polisakarida protein yang membentuk matriks di sekeliling kondrosit sehingga mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi yang paling sering terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan, seperti panggul lutut dan kolumna vertebralis. Sendi interfalanga distal dan proksimasi.
Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan terbatasnya gerakan. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami atau diakibatkan penyempitan ruang sendi atau kurang digunakannya sendi tersebut. Perubahan-perubahan degeneratif yang mengakibatkan karena peristiwa-peristiwa tertentu misalnya cedera sendi infeksi sendi deformitas congenital dan penyakit peradangan sendi lainnya akan menyebabkan trauma pada kartilago yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik sehingga menyebabkan fraktur pada ligamen atau adanya perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang rawan mengalami erosi dan kehancuran, tulang menjadi tebal dan terjadi penyempitan rongga sendi yang menyebabkan nyeri, kaki kripitasi, deformitas, adanya hipertropi atau nodulus. ( Soeparman ,1995).




PATHWAYS

Reaksi antibodi, faktor metabolik, infeksi dengan kecenderungan virus

Reaksi peradangan
 

Kurangnya informasi                                  Sinovial menebal                 Nyeri
akut
tentang proses penyakit

Difisiensi pengetahuan                            Devormitas sendi     Gangguan citra
tubuh
                                   
                                                                                    Infiltrasi kedalam os subcondria
Kerusakan kartilago dan tulang                            Hambatan  nutrisi pada kartilago
artikularis
Tendon dan ligamen melemah                             Kartilago nekrosis
Hilangnya kekuatan                        Mudah luksasi          Adhesi pada permukaan sendi
 otot                                         & subluksasi             Ankilosis fibroa ankilosis tulang
Resiko cedra                                   Kekakuan sendi       Terbatasnya gerakan sendi
                                                Hambatan                 Difisit perawatan diri
mobilitas fisik




D.   Manifestasi Osteoartritis
1.    Rasa nyeri pada sendi
Merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah apabila sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.
2.    Kekakuan dan keterbatasan gerak
Biasanya akan berlangsung 15 - 30 menit dan timbul setelah istirahat atau saat memulai kegiatan fisik.
3.    Peradangan
Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam ruang sendi akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan simpai sendi yang semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.
4.    Mekanik
Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat. Nyeri biasanya berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat menjalar, misalnya pada osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong sebelah lateril, dan tungkai atas. Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan tetapi hal ini belum dapat diketahui penyebabnya.
5.    Pembengkakan Sendi
Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya pemerahan.
6.    Deformitas
Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.
7.    Gangguan Fungsi
Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.

E.   Penatalaksanaan Osteoartritis
1.    Tindakan preventif
a.    Penurunan berat badan
b.    Pencegahan cedera  
c.    Screening sendi paha
d.    Pendekatan ergonomik untuk memodifikasi stres akibat kerja
2.    Farmakologi : obat NSAID bila nyeri muncul
3.    Terapi konservatif ; kompres hangat, mengistirahatkan sendi, pemakaian alat- alat ortotik untuk menyangga sendi yang mengalami inflamasi.
4.    Irigasi tidal (pembasuhan debris dari rongga sendi), debridemen artroscopik,
5.    Pembedahan; artroplasti
6.    Operasi, perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi yang nyata dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi,
7.    Fisioterapi, berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat.
8.    Dukungan psikososial, diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang menahun dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya.















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A.     Pengkajian
1.    Aktivitas/istirahat
Gejala : nyeri sendi karena pergerakan, nyeri tekan, yang memburuk dengan stress dengan sendi, kekakuan senda pada pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral dan simetris.
Tanda : malaise, keterbatasan ruang gerak, atrofi otot, kulit kontraktur atau kelainan pada sendi dan otot.
2.    Kardiovaskur
Gejala : fenomena Raynaud jari tangan/kaki, missal pucat intermitten, sianotik kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
3.    Integritas ego
Gejala : factor-faktor stress akut/kronis missal finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, factor-faktor hubungan social, keputusan dan ketidakberdayaan. Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas diri missal ketergantungan pada orang lain, dan perubahan bentuk anggota tubuh.
4.    Makanan / cairan
Gejala : ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengonsumsi makanan atau cairan adekuat : mual, anoreksia, dan kesulitan untuk mengunyah.
Tanda : penurunan berat badan, dan membrane mukosa kering.
5.    Hygiene
Gejala : berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi secara mandiri, ketergantungan pada orang lain.
6.    Neurosensory
Gejala : kebas/ kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
Tanda : pembengkakan sendi simetri.
7.    Nyeri/kenyamanan
Gejala : fase akut dari nyeri ( disertai / tidak disertai pembengkakan jaringan lunak pada sendi ), rasa nyeri kronis dan kekakuan ( terutama pada pagi hari ).

8.    Keamanan
Gejala : kulit mengkilat, tegang, nodus subkutaneus. Lesi kulit, ulkus kaki, kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga, demam ringan menetap, kekeringan pada mata, dan membrane mukosa.
9.     Interaksi social
Gejala : kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain, perubahan peran, isolasi.

B.    Diagnosa
1.    Nyeri akut/kronis berhubungan dengan inflamasi
2.    Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan gangguan musculoskletal.
3.    Difisit perawatan diri berhubungan dengan terbatasnya gerakan sendi
4.    Resiko cidera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang.
5.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan biofisik.
6.    Difisiensi pengetahuan berhubungan dengan kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan sehubungan dengan kurangnya informasi.

C.   Intrvensi
1.    Nyeri akut/kronis berhubungan dengan inflamasi

Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
Pasien akan :
ü  Menunjukkan tingkat kenyamanan.
ü  Dapat mengendalikan nyeri
ü  Dapat melaporkan karakteristik nyeri.



*  Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0 – 10).  
*  Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan  tempat tidur sesuai kebutuhan
*  Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi
*  Dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan yang menyentak
*  Anjurkan pasien untuk mandi air hangat . Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari.
*  Berikan masase yang lembut
Kolaborasi
ü  Beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang direncanakan sesuai petunjuk.

2.    Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan gangguan musculoskletal.
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
Pasien akan :
ü Melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari secara mandiri dengan alat bantu
ü Memperlihatkan mobilitas
*     berikan terapi latihan fisik : ambulasi, keseimbangan, mobilitas sendi, pengendalian otot
*     Bantu dan dorong perawatan diri

3.    Difisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan moskuluskeletal

Tujuan & kriteria hasil
Intervensi
Pasien akan :
ü  Menunjukkan perawaan diri dan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
*  Bantu perawatan diri pasien : mandi/higiene
*  Bantu pemenuhan eliminasi pasien


4.    Resiko cidera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang

Tujuan & kriteria hasil
Intervensi
Pasien akan :
ü Pasien dan keluarga dapat mempersiapkan lingkungan yang aman.
ü Pasien dan keluarga dapat menghindari cidera fisik.
ü Dapat memodofikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
*  Menejemen lingkungan: pantau lingkungan fisik untuk memfasilitasi keamanan.
*  Berikan bimbingan dan pengalaman belajar tentang kesehatan individu yang kondusif.
*  Identifikasi faktor resiko potensial terjadinya cidera.

5.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan biofisik.

Tujuan & kriteria hasil
Intervensi
Pasien  akan :
ü Menunjukkan adaptasi dengan ketunadayaan fisik, penyesuaian psikososial.
ü Menunjukkan citra tubuh positif dan harga diri positif.
ü Menunjukkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
ü Menunjukkan keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan



*     Diskusikan persepsi pasien tentang keadaan tubuh pasien
*     Dorong pasien untuk beradaptasi dengan persepsi stresor atau ancaman yang menghambat peran hidup.
*     Diskusikan dengan pasien tentang faktor resiko potensial dan memprioritaskan strategi menurunkan resiko.
*     Dorong pasien terhadap peningkatkan penilaian personal terhadap harga diri.
Kolaborasi
*  Rujuk pada konseling psikiatri
*  Berikan obat-obatan sesuai petunjuk

6.    Difisit pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif dan kurang familiar dengan sumber-sumber informasi

Tujuan & kriteria hasil
intervensi
Pasien akan :
ü  Memperlihatkan pengetahuan tentang penyakitnya
ü  Dapat mengidentifikasi kebutuhan terhadap informasi tambahan tentang program terapi
*  Edukasi kesehatan : berikan bimbingan dan pengalaman belajar tentang perilaku kesehatan yang kondusif
*  Penyuluhan prosedur terapi : berikan pemahaman kepada pasien secara mental tentang prosedur dan penanganan













DAFTAR PUSTAKA

*     Smeltzer C. Suzannne, (2002 ), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Alih Bahasa Andry Hartono, dkk., Jakarta, EGC.
*     Judith M. Wilkinson. & Nancy R. Ahern,(2012), Diagnosa Keperawatan Nanda NIC NOC, Jakarta, EGC
*     Doenges, EM. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih Bahasa I Made Kariasa, dkk. (2001), Jakarta, EGC.
*     Mansjoer, Arif, 2000., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.
*     Prince, Sylvia Anderson, 2000., Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit., Ed. 4, EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar